Istihsan-Are-Pengertian-Masalah-Pembagian-Contoh
13/03/2021

Istihsan Are: Pengertian, Masalah, Pembagian, Contoh

By admin

Istihsan Are: Pengertian, Masalah, Pembagian, Contoh

Arti dari istihsan adalah

Istihsan sesuai dengan cara berpikir linguistik, sedangkan Istihsan menurut istilah meninggalkan qiyas yang sebenarnya untuk melaksanakan qiyas yang tidak nyata (samar-samar), atau meninggalkan hukum Kulli (umum) untuk menjalankan hukum Istina’i (pengecualian ) karena ada bukti bahwa ini dibenarkan secara logis. (Prof. DR. Mukhtar Yahya dan Prof. DR. Fatchurrahman. 1986. Dasar-dasar fiqih. Bandung: PT. Al-Ma’arif, hal. 100).

Istihsan-Are-Pengertian-Masalah-Pembagian-Contoh

Menurut terminologi ulama Maliki, Istihsan dimaksudkan untuk menekankan pada pemahaman kalimat Istina dan dilandasi kemudahan beragama karena bertentangan dengan hukum.

Signifikansi Istishan oleh ulama Hanafi adalah beralih ke penentuan hukum masalah dan meninggalkan yang lain untuk bukti hukum Syariah yang lebih spesifik.

Masalah Istihsan

Alasan Para Ulama Syafi’iyah dan Kesepakatannya Menolak Istihsan Sebagai Bukti:

Para ulama Syafi’i memiliki pandangan berbeda tentang istihsan. Menurut Imam Syafi’i dengan Qaulnya yang terkenal, “siapapun yang berdebat dengan Istihsan telah membuat hukum Islamnya sendiri”.

Imam Syafi’i meyakini bahwa berselisih dengan Istihsan berarti ia telah menetapkan syariah baru, sedangkan yang berhak membuat syariah hanya Allah SWT. Dari sini bisa dilihat bahwa Imam Syafi’i dan pengikutnya cukup sulit untuk ditolak dari Istihsan tentang masalah ini.

Alasan Syafi’i menolak Istihsan:

1) Menganggap istihsan sebagai argumen religius berarti tidak dihukum bersama Nash. Orang yang mengamalkan istihsan dalam keadaan “suda”, yaitu menegakkan hukum dengan melanggar al-Qur’an dan sunnah.
2) Istihsan berarti menentang ayat-ayat Alquran yang memerintahkan untuk mengikuti wahyu dan menegakkan hukum sesuai dengan kebenaran yang diturunkan oleh Tuhan (al haq) dan mengikuti nafsu.
3) Nabi menyangkal hukum yang diterapkan oleh para sahabat berdasarkan Istihsan, yaitu mereka membunuh orang yang menempel di pohon.
4) Istihsan menetapkan hukum berdasarkan Maslahah. Jika maslahah sesuai dengan nash, itu diperbolehkan, tetapi maslahah yang digunakan sebagai pedoman di istihsan menurut ulama adalah maslahah.
5) Rasulullah SAW tidak menggunakan istihsan untuk menilai pertanyaan-pertanyaan yang belum ada dalam Alquran, tetapi menunggu wahyu.

Dilihat dari paradigma ulama Hanafi, Imam Safi’i meyakini bahwa berdebat dengan Istihsan berarti telah mengikuti keinginannya. Sedangkan Istihsan yang dikemukakan oleh ulama Hanafi dikatakan berdasarkan bukti yang lebih kuat.

Mengenai bukti-bukti yang dikemukakan oleh ulama hanafi tentang istihsan, seperti Surat Az-Zumar ayat 18 dan hadits Nabi yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, ulama Safi’iyah berpendapat bahwa Surat Az-Zumar ayat 18 itu tidak ada yang diindikasikan oleh istihsan, juga tidak menunjukkan kewajiban untuk mengikuti kata-kata yang baik.

Berkenaan dengan kutipan hadits di atas, maka ada indikasi adanya kesepakatan umat Islam. Sedangkan ijma adalah dalil yang bersumber dari sebuah kalimat. Jadi hadits tidak berarti bahwa setiap orang yang menganggap suatu hal baik juga baik menurut Tuhan. Ini adalah pemahaman yang seharusnya tidak ada di benak Muslim.

Selain itu Imam Syafi’i dikalangan ulama Zhahiriyah juga menolak penggunaan qiyas pada prinsipnya, demikian juga ulama Syi’ah dan sebagian ulama Kalam Mu’tazilah karena tidak menerima qiyas, kemudian mereka juga menolak istihsan karena kedudukan istihsan. dalam posisinya sebagai alat bukti hukum lebih rendah dari Qiyas.
Lihat juga: Urutan nama planet

Selain ulama Zhahiriyah yang sependapat dengan Imam Syafi’i, ada juga ulama yang tidak sependapat dengan Istihsan dengan alasan umat Islam diwajibkan untuk menaati hukum yang ditentukan oleh Allah atau yang ditentukan oleh Nabi, atau hukum yang dibandingkan, mematuhi hukum Allah dan hukum Nabi. Padahal hukum yang didirikan atas dasar apa yang dianggap baik oleh mujahid adalah hukum buatan manusia, bukan hukum syariah.

Selain ulama Zhahiriyah yang sependapat dengan Imam Syafi’i, ada juga ulama yang tidak sependapat dengan Istihsan dengan alasan umat Islam diharuskan untuk mematuhi hukum yang ditentukan oleh Allah atau yang ditentukan oleh Nabi, atau hukum dibandingkan dengan Taat. hukum Allah dan hukum Nabi. Padahal hukum yang berdasarkan apa yang dianggap baik oleh mujtahid adalah hukum buatan manusia dan bukan hukum syariah.

 

BACA JUGA :